Apakah Ciuman itu Mendekati Zina?

Dalam ilmu mantik kita mengenal yang disebut tasawi atau ekuivalensi. Contohnya, setiap manusia pasti berpikir, dan setiap yang berpikir pasti manusia. Manusia dan berpikir tak bisa dilepas satu sama lain. Berpikir merupakan ciri khas makhluk yang bernama manusia. Karena itu, mengenallah kita akan apa yang sering dikumandangkan para pemikir liberal, sering disebut pembaru (mujadid), “kebebasan berpikir” untuk menerangkan manusia secara hakikiyyah. Dan mereka mengatakan ini secara pasti ingin memasuki belantara pemikiran secara radikal.

Kita umat Islam sering sedikit ketakutan akan ungkapan itu, kita merinding dengan “kebebasan”, bulu roma kita berdiri ketika saudara-saudara kita mempertanyakan atau menafsirkan secara baru apa-apa yang selama ini kita imani. Atau kita teramat dibuat gusar oleh “kebebasan” yang terkesan hanya ingin beda semata. Bukan orang awam saja yang menggigil atau geram mendengar “kebebasan berpikir”, bahkan MUI sendiri sering dibuat pusing seperti masuk angin. Berbicara masalah MUI, kita teringat apa yang dikatakan KH. Musthafa Bisri di tahun 1999, ketika itu MUI mengharamkan presiden perempuan. Kiai yang terkenal suka nyeleneh ini berkata, “Kalau saya terpilih jadi MUI, yang pertama kali saya lakukan adalah membubarkan MUI”. Ternyata sejarah harus mencatat, kenapa MUI seringkali kurang bijak menyikapi persoalan umat. Ah, benarkah kita hidup di dunia dimana aktifitas berpikir dianggap sesuatu yang aneh.

Kita pun terjangkit demam ketika Harian Umum Kompas menerbitkan tulisan kordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdala november tahun lalu. Demam itu terus tambah memanas sampai sekarang. Bahkan orang-orang yang setuju, walau hanya sebagian, Ulil dicerca habis-habisan. Di satu pertemuan di sebuah mesjid di kota Bandung, bahkan sampai dikafirkan. Kiranya kita sepakat, bahwa artikel itu memang terlalu propokatif. Padahal, dari apa yang Ulil tulis tak ada yang sesuatu yang baru. Pemikir-pemikir Islam seperti Fazlur Rahman, Muhammad Arkoun, Abdullah Ahmed An-Naim, Muhammad Al-Jabir, Hasan Hanafi, dan banyak lagi yang lainnya telah dari dulu meneriakkan itu, mereka menulis buku-buku berbobot sebagai warisan intelektual Islam.

Tak bisa dipungkiri, banyak diantara kita, terutama kaum muda, begitu terpincut akan pemikiran liberal. Mereka pun membaca buku-buku para pemikir hebat. Wacana Islam Liberal (sebuah buku yang menampilkan makalah-makalalah para pemikir liberal dunia) karya Charles Kurzam, Gagasan Islam Liberal di Indonesia (sebuah buku disertasi) karya Greg Barton, Mengugat Otoritas Tradisi Agama karya pemikir liberal Iran Abdul Karim Soroush. Yang menarik adalah sebuah buku yang membahas organisasi yang selama ini kita kenal tradisionalis NU Liberal karya disertasi Mujamil Qomar, dan banyak lagi yang lainnya termasuk buku-buku Nurchalis Madjid dan Abdurrahman Wahid. Mereka enggan untuk menerima “fatwa” begitu saja, mereka kemudian mendayagunakan kemampuan berpikirnya secara mendalam, saya pun ingin bergabung dengannya. Kalau dalam bahasa vulgarnya, “Kalau bukan dengan akal, mau dengan apa Al-Quran dibenarkan”.

Namun ada yang perlu kita waspadai. Kebebasan berpikir yang diteriakkan oleh para pemikir kita diatas bukanlah mengajarkan kebebasan sebebas-bebasnya, tetapi sebenar-benarnya. Apabila kita menyetuji kebebasan sebebas-bebasnya, berarti kita mengamini pemikiran kaum liberal Barat seperti Jean Paul Sartre dan Michael Foucault. Pemikiran Sartre mengajarkan kebebasan tak berujung yang akhirnya melepas semua ikatan, plus kepada Tuhan. Konsekuensinya maka yang namanya akhlak adalah relatif, tidak ada yang mutlak. Pemikiran Foucault, yang dikenal seorang homo, pun demikian. Bermula dari tidak adanya pengetahuan yang menyegala zaman, kemudian Foucault melangkah jauh sampai tidak ada klaim kebenaran (true calim) yang abadi dan klaim penyelamatan (salvation calim) yang bercokol dalam wacana apa pun – agama, kitab suci, teks-teks ajaran, dan filsafat – adalah absurd. Pemikiran Foucault berbahaya bagi konsep khatamiyyah Muhammad saw. Tidak! Harus seperti gunung kita merenung. Oleh karena itu, ketika membaca pemikir-pemikir liberal, kiranya kita harus sepakat dengan apa yang ditulis Haidar Bagir ketika mengantarkan buku Soroush dalam edisi bahasa Indonesia. “… dalam semangat kita melancarkan pembaruan, kadang-kadang kita menempatkan Islam sebagai entitas di luar kita – sadar atau tidak. Kadang-kadang juga, kita lupa pada batas, … Lagi pula, yang kita bicarakan adalah agama, yang sedikit banyak, memiliki sejumlah keyakinan yang mesti dianggap sakral.” Hanya orang yang hilang kemerdekaan yang menelan bulat-bulat semua yang didapat.

Sebuah fenomena terjadi (hanya satu pengalaman diskusi), karena begitu terobsesi oleh “kebebasan berpikir”, sebagian kita melangkah jauh dalam menyikapi Al-Quran dan memaknainya, sampai diantaranya ada yang menghalalkan ciuman. Alasan yang dipakai adalah ketika merelatifkan makna kata taqrabu dalam surat Al-Isra’ ayat 32. Lâ taqrabu zinna innahu kana fahisah (janganlah mendekati zina, sesungguhnya zina adalah perbuatan keji). Argumennya, “Jangan mendekati zina ayat itu berkata, bukan jangan zina. Kata mendekat disana sanggup merangkum semua kebudayaan, sanggup memaknai Islam sebagai rahmatan lil-alamîn. Kadar mendekati zina di tiap kebudayaan berbeda. Dengan duduk berdua seorang pemuda dan pemudi di ruang tamu, sudah mendekati zina menurut kebudayaan Arab seperti yang diceritakan fikih klasik. Tetapi di Barat, itu tak berlaku. Di Barat, jangankan ke salon istri, ke teman saja tiap ketemu langsung cium pipi. Nah, di zaman sekarang ini, dengan begitu hebatnya televisi menampilkan kehidupan ala Barat, kaum muda kita pun sudah berbudaya seperti Barat. Tak perlu mengerutkan dahi untuk menyetujui ini, lihat saja film-film, sinetron-sinetron dan iklan-iklan sekarang ini. Ciuman dianggap sesuatu yang wajar (bahkan hilangnya keperawanan dianggap sesuatu yang enteng, la wong kehamilan bisa ditahan dengan adanya kondom. “Keindahan cinta!” katanya). Ciuman halal, asal budaya setempat membolehkan. Ayat itu hanya berkata, jangan mendekati zina, bukan jangan zina.”

Kita yang medengar argumen ini mungkin tertawa, tetapi bagi saya itu adalah sebuah sindiran yang keras. Harus kita akui, kita telah “terpenjara” oleh Barat. Semua yang keluar dari Barat kita anggap megah: dari mulai kue donat sampai sistem perintahan. Padahal, bagi yang mau jadi manusia, pasti akan berkata “tak semuanya”. Sebagaimana Al-Quran pun tak sesempurna seperti bayangan kita. Apabila kita mau merenungkan jauh atau sebentar, seperti ditawarkan pemikir liberal kita, Al-Quran hanya memuat konsep-konsep umum, Al-Quran tak sampai bebicara kepentingan teknis. Bukankah cara-cara shalat tak diterangkan Al-Quran? Bukankah Al-Quran hanya mengatakan pentingnya musyawarah (syura’) dalam mengambil keputusan bersama, tanda kutif “bernegara”? Sedangkan musyawarah itu bisa dilaksanakan oleh bentuk negara Kerajaan juga Republik. (perlu kajian lebih jauh, bukan?).

Kebebasan berpikir yang sampai menghalalkan ciuman itu jelas harus kita tolak dengan tegas. Menurut saya, salah satu kesalahannya, argumen itu jelas tak menghiraukan kaidah Bahasa Arab. Kata mendekat dalam bahasa Arab sekurang-kurangnya ada dua: khataba dan qaraba. Kata khataba dikenal dengan berbicara atau berkhuthbah (khatib dalam kuthbah Jum’ah), yang diajak bicara dalam bahasa Arab mukhatab. Oleh karena itu, kata khataba bisa diartikan mendekat secara emosional, intelektual, plus spiritual. Apabila kita membaca buku, kita mendekat dengan si penulis secara khataba, si penulis tak ada di depan kita secara badani (material). Sedangkan kata qaraba adalah mendekat secara material, intelektual, plus spritual. Dalam konsep Islam medekat diri kepada Tuhan disebut taqarub ilallâh. Artinya, untuk mendekatkan diri kepada-Nya kita memerlukan syariat, memerlukan gerak badani (material). Kita tak bisa berkata untuk mendekat kepada-Nya hanya cukup dengan mengingat-Nya atau bercakap-cakap saja dengan-Nya di malam sepi seperti orang-orang New Age (spiritualisme tanpa agama).

Ayat itu pun berkata, la taqrabu zina. Dengan qaraba!Artinya, kita harus menjauhi  apa-apa yang mendekati zina secara material, secara badani. Kita harus mengartikan ayat itu sebagaimana ulama-ulama klasik berkata, “Jangankan zina, mendekat saja sudah haram”. Makanya, dalam Islam itu konsepnya adalah khitbah, bukan qurbah. Tak peduli dengan perkatan Matthew Messina, dokter gigi dan consumer advisor Amerika Dental Assosiation, yang mengatakan bahwa air liur ekstra yang diproduksi saat berciuman bisa sangat menyehatkan gigi. Yang pasti, ciuman sebelum nikah, juga kepada selain istri sendiri, tidak diperkenankan agama. Dalam hubungan dengan lawan jenis (suka dikatakan pacaran), Islam hanya membolehkan hubungan dalam khataba. Seperti muatan katanya, bercakap-cakap. Nah, khitbah tiap kebudayaan memang berbeda, bahkan perkembangan jaman pun menunututnya khitbah-nya berubah. Cuman, tetap tidak sampai mendekat secara badani, melabrak makna. Misal, dahulu dalam obrolan dengan pacar hanya mengatakan bagaimana keluarga masing-masing (itu yang bisa kita baca di buku-buku sejarah, novel-novel yang berkisah waktu lampau atau cerita orang tua kita). Sekarang ini, kita bisa berbicara tentang diri masing-masing, atau bahkan dengan keinginan seksual masing-masing. Cuman, standarnya tetap bercakap-cakap.

Kita pun zaman sekarang ini sering mengatakan pentingnya “pendidikan seks” bagi kaum muda kita. Ya, saya setuju itu. Dalam artian, kita belajar nuklir bukan untuk memusnahkan satu bangsa, kita belajar seks pun bukan untuk bisa seenaknya dalam behubungan dengan lawan jenis. Oleh karena itu, “pendidikan seks” jangan dilepas dengan agama.    

Menurut saya, argemen yang menghalalkan ciuman itu, hanya ingin melakukan pembenaran dari “apa yang nampak”. Dan ini mungkin salah satu ciri khas kaum liberal (misal, ketika mengatakan jilbab adalah arena budaya). Dan ini pulalah yang harus membuat kita bersikap hati-hati. Islam harus sesuai dengan perkembangan dan tantangan zaman, namun bukan berarti takluk tunduk pada “apa yang nampak”. Apalagi sesuatu yang keluar dari Barat. Bukankah banyak para pemikir Barat sendiri telah membongkar borok-borok dan mengoyyak kebudayaan Barat, diantaranya Francis Fukuyama dalam karya antiknya dalam mengungkap fakta dan mengurai makna The Great Disruption?

Dalam diskusi itu, satu perkataan keras ingin saya tulis, “Mau seperti apa kebudayaan kita?” Seperti kebudayaan Barat yang dipenuhi kriminalitas yang berserakan, keluarga acak-acakan, indivildualistik memukul KO komunitas, dipenuhi anak-anak tanpa bapak, hiper relaitas, dan yang lebih parah menipisnya iman.”¨

 

Fauz Noor

Artikel Terkait

Updated: 1 October 2011 — 18:38

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Budisma.web.id © 2014 Frontier Theme