Aplikasi dan Dampak Lingkungan Minyak Bumi

Aplikasi dan Dampak LingkunganMinyak Bumi- Minyak bumi selain digunakan untuk bahan bakar juga dapat digunakan sebagai bahan baku untuk berbagai aplikasi, seperti polimer, karet sintetik, pupuk, detergen, pelarut, fiber, dan obat-obatan. Akan tetapi, selain bermanfaat, penggunaan minyak bumi juga memiliki dampak negatif pada lingkungan jika produk samping yang dihasilkan melebihi ambang batas tertentu.

1. Aplikasi Lain Minyak Bumi

Sekitar 75% minyak mentah dimurnikan untuk kepentingan bahan bakar. Sisanya tetap sebagai minyak bumi untuk kepentingan pelarut, industri pelumas, dan obat-obatan. Minyak bumi dari golongan aromatik dan alifatik tidak jenuh yang memiliki massa molekul rendah sering disebut dengan nama nafta. Fraksi nafta ini banyak digunakan untuk bahan baku berbagai aplikasi. Senyawa aromatik digunakan sebagai bahan baku untuk obatobatan, detergen, zat warna, dan kosmetik. Beberapa senyawa aromatik banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pemanis (sakarin), pengawet (BHA, BHT, dan propilgalat), pewarna (indigotin biru, amaran merah, tartrazin kuning, dan eritrosin). Senyawa alifatik tidak jenuh banyak digunakan untuk bahan baku polimer, pelarut, karet sintetik, dan juga fiber sintetik. Aplikasi lain dari fraksi nafta adalah sebagai bahan baku untuk membuat aerosol, antibeku, detergen, pigmen, alkohol, lem, peledak, herbisida, dan insektisida.

Sakarin (pemanis buatan)

Sakarin (pemanis buatan)

BHA (pengawet)

BHA (pengawet)

2. Dampak Lingkungan Minyak Bumi

Pembakaran bensin yang mengandung zat aditif TEL akan membentuk timbel oksida (PbO). Senyawa ini dapat tertimbun dalam mesin. Agar PbO tidak tertimbun dalam mesin, biasanya ke dalam bensin ditambahkan 1,2-dibromometana. Ketika pembakaran bensin di dalam mesin, PbO yang terbentuk bereaksi dengan 1,2-dibromometana menghasilkan PbBr2 yang mudah menguap dan dibebaskan ke udara. Senyawa PbBr2 yang dibebaskan dari pembakaran bensin menjadi polutan bagi udara di sekitarnya sebab senyawa timbel tergolong beracun pada batas ambang tertentu (logam B3 atau bahan beracun dan berbahaya). Pencemaran lain dari dampak pembakaran minyak bumi adalah jika pembakaran tidak sempurna akan terbentuk gas CO dan jelaga. Jelaga sebagai hasil samping dari pembakaran minyak bumi dapat mencemari lingkungan karena berupa partikulat yang dapat masuk ke dalam paru-paru dan merusak sistem jaringan. Beberapa polutan yang dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna minyak bumi antara lain karbon monoksida, oksida belerang, dan partikulat hidrokarbon.

a. Dampak Karbon Monoksida pada Lingkungan

Gas CO yang dibebaskan dari pembakaran jika terhirup dapat menimbulkan lelah dan pusing, bahkan pingsan. Hal ini berkaitan dengan reaktifitas sel darah merah terhadap gas CO. Jika di udara banyak gas CO dan terhirup, haemoglobin akan mengikat gas CO daripada gas O2. Akibatnya, orang yang menghirup CO akan kekurangan oksigen dalam darah. Jika keadaan ini terus berlanjut dapat menimbulkan kematian. Konsentrasi CO 5% dalam darah sudah menimbulkan kelainan pada mekanisme kerja jantung dan paru-paru. Kadar CO 10 ppm di udara dapat menimbulkan penyakit bagi yang menghirupnya dan kadar gas CO 1300 ppm selama 30 menit dapat menimbulkan kematian. Ciri-ciri orang yang menghirup gas CO dari udara, di antaranya timbul rasa lelah, sakit kepala, serta hilangnya keterampilan berpikir maupun ketangkasan tubuh. Oleh sebab itu, pengendara bermotor sering cepat merasa lelah dan pusing. Badan Kesehatan Dunia (WHO), merekomendasikan kadar ratarata gas CO di udara sebesar 9 ppm selama 8 jam atau 32 ppm selama 1 jam. Artinya, udara masih dianggap segar (sehat) jika selama 8 jam kadarnya < 9 ppm. Jika kadarnya 32 ppm, udara dinyatakan segar hanya dalam waktu 1 jam.

b. Dampak Oksida Belerang bagi Lingkungan

Selain timbal dan gas CO, masih terdapat satu jenis gas yang juga bersifat racun, yaitu terbentuknya gas SO2. Gas ini timbul disebabkan dalam bensin masih mengandung belerang. Belerang dioksida adalah gas yang tidak berwarna dan tidak mudah terbakar. Pada konsentrasi antara 0,3–1,0 ppm di udara dapat menimbulkan bau yang tidak sedap. Gas SO2 dapat berubah menjadi gas SO3. Pada kelembapan tinggi dapat terbentuk asam sulfat yang sangat korosif terhadap berbagai material logam maupun nonlogam, seperti bangunan dan cat rumah (perhatikan Gambar 9.7). Gas SO2 juga dapat menimbulkan reaksi fotokimia yang berakibat menurunnya daya penglihatan (visibilitas) karena terbentuk smog (kabut asap). Pada 1950, di London terjadi bencana kematian paling sedikit 4.000 orang akibat kabut asap. Pada konsentrasi 0,20 ppm selama 24 jam di udara terbuka dapat menimbulkan gangguan pada sistem pernapasan, seperti penyakit kanker dan bronchitis akut. Pengaruh ini timbul karena SO2 yang dihirup bereaksi dengan uap air pada saluran pernapasan dan terbentuk asam sulfit (H2SO3). Persamaan kimianya:
SO2(g) + H2O(l) →H2SO3(aq)

Gas SO2 juga mengganggu pertumbuhan sejumlah tanaman. Pada konsentrasi rendah menyebabkan terhambatnya pembentukan klorofil. Pada konsentrasi tinggi menyebabkan kematian. Kadar SO2 sebanyak 0,22–0,25 ppm dapat mematikan tanaman apel, sedangkan pada konsentrasi 0,20–0,23 ppm dapat mematikan tanaman kentang. Ketika terjadi hujan, gas SO2 dapat terbawa oleh air hujan dalam bentuk asam sulfit, H2SO3. Selain itu, gas SO2 dapat teroksidasi menjadi gas SO3 dan bereaksi dengan air hujan membentuk asam sulfat.
SO2(g) + H2O(l) →H2SO3(aq)
SO3 (g) + H2O(l) →H2SO4(aq)

Peristiwa tersebut dinamakan hujan asam. Hujan asam dapat dideteksi dari kualitas air hujan. Di Jakarta misalnya, pH air hujan berada dalam kondisi asam. Ambang batas pH air hujan 5,5. Jika pH air hujan di bawah 5 maka hampir semua vertebrata, invertebrata, dan mikroorganisme air akan mati. Oleh karena asam bereaksi dengan logam dan juga karbonat, hujan asam dapat menyebabkan korosif, baik terhadap material logam maupun bangunan. Contohnya keramik dan batu kapur, bahan utamanya kalsium karbonat (CaCO3), akan hancur dengan adanya hujan asam.

c. Dampak Hidrokarbon (CnHx) pada Lingkungan

Hidrokarbon adalah campuran senyawa yang mengandung karbon dan hidrogen dalam berbagai komposisi. Pada umumnya, senyawa hidrokarbon dianggap pencemar jika terdapat dalam konsentrasi cukup tinggi. Terdapat dua golongan besar berkaitan dengan pencemaran udara, yaitu deret olefin dan deret aromatik. Sumber utama polutan hidrokarbon adalah proses pembakaran yang kurang sempurna dari bahan bakar minyak bumi serta dari proses penguapan minyak bumi. Beberapa uap hidrokarbon berbau tidak sedap dan hidrokarbon lain berperan pada proses fotokimia. Beberapa senyawa aromatik benzena dan turunannya diduga dapat menyebabkan kanker, sedangkan olefin pada konsentrasi rendah tidak membahayakan bagi hewan, tetapi pada beberapa jenis tanaman dapat menghambat pertumbuhan. Hidrokarbon di udara dapat membentuk reaksi yang sangat kompleks, mengakibatkan bertambahnya konsentrasi ozon di udara dan terbentuknya senyawa organik seperti peroksiasetil nitrat (PAN), peroksibenzoil nitrat (PBzN), dan asam nitrat. Senyawa-senyawa tersebut berkerumun membentuk kabut. Oleh karena zat yang dihasilkan berasal dari reaksi fotokimia maka kabut yang terbentuk disebut kabut fotokimia.

Struktur molekul PAN

Struktur molekul PAN

Artikel Terkait

Updated: 21 November 2014 — 14:07

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Budisma.web.id © 2014 Frontier Theme