Contoh Perpaduan budaya Hindu Budha dan Islam

Contoh Perpaduan budaya Hindu Budha dan Islam – membentuk corak tersendiri di dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Oleh para wali dan sunan, corak kebudayaan yang lama tidak dihilangkan dengan alasan agar masyarakat tidak terlalu kaget dengan perubahan. Dengan demikian, ajaran Islam dapat diterima dengan mudah dan tanpa ketakutan. Kaum ulama menyadari bahwa masyarakat Indonesia bersifat plural, masyarakat yang beranekaragam dalam hal bahasa, budaya, dan suku-bangsa. Unsur-unsur tradisi masih melekat dapat dirasakan hingga sekarang, di antaranya acara tahlilan, halal bi halal, berziarah, sekatenan, dan tembangan khususnya di Jawa.

1. Tahlilan

Umat Islam di Indonesia memiliki kekhasan sendiri yang tidak ditemui pada masyarakat Islam di Timur Tengah, salah satunya adalah tahlilan. Tahlilan adalah acara doa bersama yang diadakan di rumah keluarga orang yang meninggal, yang diikuti oleh keluarga yang berduka, para tetangga, dan sanak-saudara orang yang meninggal. Tahlilan pada dasarnya pengucapan ”La ilaha illallah”, yang berarti ”Tiada Tuhan selain Allah”.

Tahlilan dimulai pada hari di mana orang bersangkutan meninggal, biasanya pada malam hari setelah salat magrib atau isya. Dalam pelaksanaannya, dibacakan ayat-ayat dari Al-Quran, terutama Surat Yaasin hingga dari ayat pertama hingga terakhir, doa-doa agar sang almarhum/almarhumah diampuni segala dosanya dan diterima amal-ibadahnya, serta salawat (salam) terhadap Nabi Muhammad beserta para kekuarganya, sahabatnya, dan para pengikutnya. Pembacaan ayat dan doa tersebut biasanya dipimpin oleh seorang ulama. Setelah pembacaan doa selesai, biasanya tuan rumah yang berduka menyediakan penganan/makanan tradisional, air minum, serta berbungkus-bungkus rokok untuk disajikan kepada peserta tahlilan. Setelah berbincang-bincang sekadarnya, para peserta tahlilan pulang. Acara tahlilan ini lazimnya diselenggarakan selama tujuh hari berturut-turut. Lalu setelah itu, diadakan pula tahlilan untuk memperingati 40 bahkan hingga 1.000 hari kematian almarhum/almarhumah. Peringatan 7, 40, dan 100 hari merupakan tradisi Indonesia pra-Islam, yakni budaya lokal yang telah bersatu dengan tradisi Hindu-Buddha. Pada zaman Majapahit, penghormatan terhadap orang yang meninggal dilakukan secara bertahap, yakni pada hari orang bersangkutan meninggal, 3 hari kemudian, 7 hari kemudian, 40 hari kemudian, 1 tahun kemudian, 2 tahun kemudian, dan 1000 hari kemudian. Terlihat bahwa acara tahlilan tak sepenuhnya ajaran murni Islam. Nabi Muhammad tak pernah mengadakan acara tahlilan bila ada yang meninggal, melainkan hanya mendoakan agar orang meninggal tersebut diampuni dosanya dan diterima keimanan Islamnya.

2. Halal bi Halal

Salah satu lagi kekhasan sinkretisme dalam masyarakat Indonesia adalah tradisi halah bi halal. Halal bi halal secara harfiah berarti ”yang halal dengan yang halal”, ”yang boleh dengan yang boleh”, ”saling melepaskan ikatan”, atau ”saling mencairkan hubungan yang membeku sebelumnya”. Dengan kalimat lain, ia dapat berarti acara saling maaf-memaafkan antarsesama umat Islam.

Di Indonesia tradisi ini biasanya dilaksanakan setelah bulan puasa (shaum) pada bulan Ramadhan berakhir, yakni perayaan Idul Fitri (Lebaran) pada tahun Hijriyah. Bila di Arab dan negara-negara Timur-Tengah, budaya saling maaf-memaafkan antarumat Islam dilakukan ketika menjelang puasa bulan Ramadhan, di Indonesia tradisi maaf-memaafkan cenderung dilakukan setelah Ramadhan berakhir, yakni pada perayaan Idul Fitri (Lebaran). Perayaan saling memaafkan ini biasanya ”diformalkan” menjadi acara saling mengunjungi (atau dikunjungi) antara saudara, kerabat, atau sahabat untuk saling meminta memaafkan. Tradisi ini disebut pula silaturahmi (silaturrahim), yang bertujuan untuk memperpanjang dan menjaga hubungan antarsesama. Bila ditelusuri, kebiasaan berhalal bi halal ini dilaksanakan sejak zaman kesultanan (kekhalifahan) non-Arab yang memiliki budaya sendiri sebelum Islam datang. Jadilah, pengaruh budaya lokal (non-Arab) tersebut saling berdialektika dengan tradisi asli Islam.

3. Ziarah

Dalam agama Islam dikenal tradisi ziarah, yakni berkunjung kepada makam atau kuburan untuk mendoakan almarhum/almarhumah agar iman Islamnya diterima oleh Sang Pencipta dan dihapuskan segala dosa yang pernah dilakuan selama hidupnya. Namun, pada perkembangannya di Indonesia, tradisi ziarah ini disisipi oleh kehendak-kehendak lain yang tak ada hubunganya dalam konteks keislaman.

Tradisi berziarah (pilgrim) Islam bercampur padu dengan tradisi pemujaan terhadap roh nenek-moyang atau dewa-dewa Hindu-Buddha, dan hasilnya adalah sang penziarah bukannya mendoakaan arwah yang meninggal akan tetapi memiliki tujuan lain, di antaranya meminta kekuatan gaib kepada roh nenekmoyang atau arwah tokoh-tokoh penting dan keramat. Tak jarang, makam para wali di Jawa banyak dikunjungi oleh mereka yang memintai ”petunjuknya” kepada roh sang wali yang telah meninggal. Padahal dalam pandangan Islam, orang yang sudah meninggal itu tidak memiliki kemampuan sama sekali untuk memberikan bantuan kepada orang yang masih hidup, seperti memberikan kekayaan, jabatan, pangkat, kekebalan tubuh, atau yang lainnya. Maka dari itu, ada orang yang menyebut ziarah sebagai nandran atau nyadran atau nyekar. Tradisi nyekar ini merupakan peninggalan prasejarah yang paling kental dalam tradisi Islam sekarang.

Alkisah, pada tahun 1284 Saka atau 1362 M, Raja Majapahit, Hayam Wuruk melakukan acara srada untuk memperingati wafatnya Rajapatni. Tradisi penghormatan terhadap roh nenek moyang terasa masih sangat kental, walaupun sudah masuk agama Hindu-Buddha. Di saat masuknya agama Islam, upacara seperti ini tidak hilang malah dibumbui dengan unsur-unsur Islam. Acara srada dalam bahasa Jawa sekarang adalah nyadran dilakukan pada bulan arwah (Ruwah) atau disebut pula Syaban untuk menjemput datangnya bulan Ramadhan serta pada hari raya Idul-Fitri dan Idul Adha (Lebaran Haji). Para penziarah mulanya membacakan doa-doa dan Surat Yaasin dari Al-Quran. Setelah itu mereka menaburkan bebungaan berwarna-warni dan mengucurkan air tawar yang telah diberi bacaan/doa di atas tanah makam yang dimaksud.

4. Sekatenan dan Grebeg Maulid

Upacara sekatenan diciptakan Sunan Bonang dalam rangka menyambut hari Maulud Nabi Muhammad Saw. yang jatuh pada bulan Rabiul Awal tahun Hijriah. Jadi, sekatenan merupakan bagian dari acara grebeg Maulud. Sunan Bonang, seperti Sunan Kalijaga, menggunakan pertunjukan wayang sebagai media dakwahnya. Lagu gamelan wayang berisikan pesan-pesan ajaran agama Islam. Setiap bait diselingi ucapan syahadatain yang kemudian dikenal dengan istilah sekaten. Dalam tradisi sekatenan, semua pihak diharapkan keikutsertaannya, dari raja, abdi dalem istana, pasukan kerajaan, hingga rakyat kecil. Mereka tumpahruah di jalan guna berebutan berkah yang berupa nasi dan laukpauk berikut sayur mayurnya untuk disantap.

5. Kebatinan dan Kejawen

Kebatinan merupakan bentuk kerohanian yang menggabungkan kepercayaan agama kuno orang Jawa dengan tradisi mistik Hindu, Buddha, dan sufi-Islam (dan juga Kristen). Meski di luar Jawa terdapat pula pengikut kebatinan, namun sebagian besar pengikut ajaran ini memang orang Jawa. Ajaran kebatinan dan kejawen ini bukan hanya mencakup pengetahuan mistik, namun juga alam gaib yang dijalankan oleh kaum bangsawan maupun rakyat biasa. Dunia kebatinan ini sering disebut pula dunia asketisme dan dijalaninya dengan cara yang bermacam-macam, seperti bertapa, berpuasa, mengatur pernafasan. Para pengikut kebatinan maupun kejawen tidak melaksanakan perintah syariat Islam secara lengkap. Mereka tidak sembahyang lima waktu, percaya terhadap kekuatan benda-benda sakti dan roh leluhur. Selain roh nenek-moyang, mereka pun memuja arwah-arwah tokoh sejarah dan legendaris, misalnya tokoh Wali Sanga, Panembahan Senopati, dewa-dewi Hindu seperti Dewi Sri atau Batara Kala. Dalam acara ruwatan, misalnya, seseorang diharapkan terhindarkan dari segala marabahaya dan kesialan dengan menanggap pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

6. Tembangan

Selain Sunan Bonang, dakwah dengan menggunakan media seni dilakukan oleh Sunan Giri. Ia menciptakan lagu-lagu bernuansa Islam namun dengan langgam (nada-irama) Jawa. seperti ”Ilirilir” dan ”Jamuran”. Sunan Drajat pun menciptakan tembang berbahasa Jawa, yakni ”Pangkur”. Tak ketinggalan, Sunan Muria ikut menciptakan tembang seperti ”Sinom” dan ”Kinanti”. Tembang ”Sinom” umumnya menggambarkan suasana ramah tamah dan berisi nasehat, sedangkan ”Kinanti” yang bernada gembira digunakan guna menyampaikan ajaran agama, nasihat, dan filsafat hidup. Sementara itu, Sunan Kalijaga berhasil menciptakan ”Dandanggula”, tembang yang berisi rukun iman.

Artikel Terkait

Updated: 20 November 2014 — 01:34

1 Comment

Add a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Budisma.web.id © 2014