Pengertian Imunodefisiensi dan Alergi

Pengertian Imunodefisiensi dan Alergi – Apabila respons kekebalan sangat rendah atau bahkan hilang, seseorang dikatakan mengalami imuniodefisiensi. Imunodefisiensi menyebabkan tubuh rentan terhadap infeksi bibit penyakit. Orang yang mengalami imunodefisiensi tiba-tiba mudah terinfeksi mikroba. Pada beberapa kasus, tiba-tiba menderita kanker. Imunodefisiensi terjadi mungkin karena dirusaknya sel B atau sel T, atau keduanya. Sel B dan sel T adalah sel-sel yang dihasilkan oleh limfosit yang berperan dalam merusak antigen. Melalui percobaan terhadap hewan, didapati apabila sel T dan sel B dipulihkan, fungsi kekebalan tubuh pun pulih kembali. Banyak penderita imunodefisiensi ditransplantasi kelenjar thymus dan sumsum tulang, kemampuan imunitasnya pulih. Tentu kita semua memahami tentang penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrom). Mereka menjadi salah satu fokus dan prioritas utama masyarakat untuk disembuhkan. Penderita AIDS dapat terjangkit segala macam penyakit. Penyakit ringan pun dapat menjadi pembunuh mereka.

Walaupun sistem imun berfungsi melindungi tubuh, tetapi saat sistem ini bereaksi pada molekul asing dalam lingkungan secara berlebihan akan timbul alergi. Alergi adalah respons sistem kekebalan tubuh yang hipersensitif untuk melawan antigen. Alergi dapat disebabkan oleh beberapa hal, misalnya debu, bulu kucing, benang sari, dan makanan. Penyebab alergi disebut dengan alergen. Proses alergi dimulai ketika alergen masuk ke dalam tubuh. Ketika alergen masuk, antibodi IgE akan dibentuk seperti halnya sel memori B dan T. Antibodi yang dihasilkan akan berikatan dengan mastosit. Saat lgE mengikat alergen, mastosit akan melepaskan butir-butir halus yang disebut histamin. Efek dari pelepasan histamin tersebut dapat berupa bersin, hidung basah, dan mata berair.

Gangguan immunodefisiensi primer (PID) merujuk beragam gangguan yang ditandai dengan berkurangnya atau tidak adanya salah satu atau lebih komponen dari sistem kekebalan tubuh. Gangguan tersebut dapat bersifat kronis dan biasanya merupakan gangguan yang cukup penting. IPD menyebabkan pasien tidak dapat merespon secara adekuat infeksi yang ada sehingga respon terhadap gangguan infeksi tidak adekuat. Lebih dari 130 gangguan IPD yang berbeda telah diidentifikasi hingga saat ini, dan dengan adanya penemuan baru yang terus-menerus didapatkan perkembangan identifikasi lainnya. PID kebanyakan merupakan hasil dari cacat bawaan dalam pengembangan sistem kekebalan tubuh dan/atau fungsi. Penting untuk dicatat bahwa PID berbeda dari immunodefisiensi sekunder yang mungkin timbul dari penyebab lain, seperti infeksi virus atau bakteri, malnutrisi atau pengobatan dengan menggunakan obat yang menginduksi imunosupresi.

Estimasi prevalensi gangguan IPD (selain gangguan imunodefisensi IgA) di Amerika Serikat adalah sekitar 1:1200 kelahiran hidup. Defisiensi IgA adalah PID yang paling umum, terjadi pada sekitar 1:300 hingga 1:500 orang. Presentasi klinis PID sangat bervariasi, namun gangguan yang paling banyak adalah gangguan yang melibatkan peningkatan kerentanan terhadap infeksi.

Bahkan, PID dapat nampak sebagai infeksi “rutin” (telinga, sinus dan paru-paru). Oleh karena itu, mungkin tidak terdeteksi dalam diagnosis awal perawatan. Diagnosis yang akurat dan tepat waktu dari gangguan ini membutuhkan indeks kecurigaan yang tinggi dan pengujian khusus. Oleh karena itu, konsultasi dengan imunolog klinis yang berpengalaman dalam evaluasi dan pengelolaan immunodefisiensi menjadi sangat penting, karena diagnosis dini dan pengobatan sangat penting untuk mencegah penyakit yang signifikan terkait morbiditas dan meningkatkan kesehatan pasien (McCusker,2011:1)

Tujuan penulisan ini untuk membahas gangguan imunodefisiensi yang terjadi khususnya pada anak-anak dan pada umumnya gejalanya tidak disadari sebagai hal yang patut diperhatikan karena gejala tersebut nampak seperti penyakit biasa (seperti influenza). Metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan dan dianalisis secara deskriptif.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya alergi:

  • Jagalah kebersihan lingkungan, baik di dalam maupun di luar rumah. Hal ini termasuk tidak menumpuk banyak barang di dalam rumah ataupun kamar tidur yang dapat menjadi sarang bertumpuknya debu sebagai rangsangan timbulnya reaksi alergi. Usahakan jangan memelihara binatang di dalam rumah ataupun meletakkan kandang hewan peliharaan di sekitar rumah anda.
  • Kebersihan diri juga harus diperhatikan, untuk menghindari tertumpuknya daki yang dapat pula menjadi sumber rangsangan terjadinya reaksi alergi. Untuk mandi, haruslah menggunakan air hangat seumur hidup, dan usahakan mandi sore sebelum PK.17.00′. Sabun dan shampoo yang digunakan sebaiknya adalah sabun dan shampoo untuk bayi. Dilarang menggunakan cat rambut.
  • Jangan menggunakan pewangi ruangan ataupun parfum, obat-obat anti nyamuk. Jika di rumah terdapat banyak nyamuk, gunakanlah raket anti nyamuk.
  • Gunakan kasur atau bantal dari bahan busa, bukan kapuk.
  • Gunakan sprei dari bahan katun dan cucilah minimal seminggu sekali dengan air hangat akan efektif.
  • Hindari menggunakan pakaian dari bahan wool, gunakanlah pakaian dari bahan katun.
  • Pendingin udara (AC) dapat digunakan, tetapi tidak boleh terlalu dingin dan tidak boleh lebih dari PK.24.00′
  • Awasi setiap makanan atau minuman maupun obat yang menimbulkan reaksi alergi. Hindari bahan makanan, minuman, maupun obat-obatan tersebut. Harus mematuhi aturan diet alergi.
  • Konsultasikan dengan spesialis. Alergi yang muncul membutuhkan perawatan yang berbeda-beda pada masing-masing penderita alergi. Mintalah dokter anda untuk melakukan imunoterapi untuk menurunkan kepekaan anda terhadap bahan-bahan pemicu reaksi alergi, misalnya: dengan melakukan suntikan menggunakan ekstrak debu rumah atau dengan melakukan imunisasi Baccillus Calmette Guirine (BCG) minimal sebanyak 3 kali (1 kali sebulan) berturut-turut, dan diulang setiap 6 bulan sekali.

Artikel Terkait

Updated: 20 April 2013 — 14:59

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Budisma.web.id © 2014