Kehidupan masa Penjajahan Inggris

Kehidupan masa Penjajahan Inggris – Berbicara mengenai penjajahan Inggris di Indonesia, kita tidak bisa melepaskan ingatan pada sosok Thomas Stamford Raffles. Dia adalah letnan gubernur jenderal Jawa yang mendasarkan kekuasaannya pada kebebasan dan persamaan manusia. Perhatiannya ditujukan pada kesejahteraan penduduk asli sebagai tanggung jawab pemerintah. Oleh karena itu, banyak kebijakannya yang cenderung tidak mengekspolitasi penduduk seperti para penguasa Belanda.

a. Kehidupan Ekonomi

Salah satu kebijakannya yang terkenal adalah landrente atau pajak tanah. Kebijakan itu antara lain menarik pajak sebesar 2/5 dari hasil bumi yang dimiliki seseorang. Pertimbangannya adalah bahwa semua tanah diyakini sebagai milik pemerintah Inggris dan rakyat hanyalah penyewa. Besarnya pajak itu ditentukan oleh kesuburan tanah rakyat dan bisa dibayar dengan uang atau hasil bumi lainnya seperti padi. Selain itu ia juga meletakkan dasar-dasar bagi perkembangan perekonomian, sistem uang, dan menjadikan desa sebagai pusat administrasi.

Ternyata, pelaksanaan landrente mengalami kesulitan karena adanya penolakan dari para bangsawan. Kita tahu bahwa para bangsawan adalah pemilik tanah yang telah berlangsung secara turun-temurun. Para bangsawan merasa dirugikan apabila kebijakan itu benar-benar dilaksanakan oleh Raffles. Apalagi rakyat belum siap dengan monetisasi yang hendak diterapkan untuk menggantikan sistem inatura atau sistem tradisional yang telah lama dikenal rakyat. Secara garis besar, kebijakan landrente yang dijalankan oleh Raffles gagal mendatangkan keuntungan bagi Inggris.

Kehidupan ekonomi penduduk sangat dipengaruhi oleh struktur feodal yang bercirikan bendara (para raja, bangsawan, dan keluarganya) dan abdi (rakyat). Secara tradisional, rakyat harus menyerahkan upeti kepada para bangsawan keraton. Selain itu rakyat harus membersihkan keraton, mencarikan rumput untuk kuda-kuda kerajaan, dan melakukan penjagaan. Hubungan bendara dan abdi jelas sangat memberatkan rakyat. Apalagi penguasa dan pengusaha kolonial juga mempunyai tuntutan yang tidak dikenal di dalam ikatan atau kontrak. Bagi rakyat ini sangat memberatkan karena mereka tidak hanya menghasilkan untuk dikonsumsi sendiri tetapi juga memproduksi untuk kepentingan penguasa kolonial, lokal, dan pengusaha.

b. Kehidupan Politik

Kebijakan politik yang diterapkan Raffles di Hindia Belanda banyak dipengaruhi teori liberalisme. Inggris sukses menerapkannya di India. Pada tahun 1812, Raffles mengadakan pembaruan sistem pengadilan dengan sistem juri seperti di Inggris dan menata kehidupan politik pemerintahan di Jawa. Raffles membagi Jawa ke dalam delapan belas keresidenan dan mengurangi kekuasaan kekuasaan para bupati. Kesultanan Banten dihapuskan, sementara itu kedaulatan Kesultanan Cirebon diserahkan kepada Inggris. Raffles berhasil mendekati dan memengaruhi beberapa daerah atau kerajaan untuk bekerja sama dengan Inggris. Misalnya, mengasingkan Sultan Hamengku Buwono II ke Pinang dan menggantikannya dengan Hamengku Buwono III dari Yogyakarta (1811).

Selain itu, untuk memperlemah Kesultanan Yogyakarta, Raffles menyerahkan sebagian wilayah kepada Pangeran Natakusuma. Raffles juga memperkecil wilayah Kesunanan Surakarta. Kesulitan mulai dihadapi oleh Raffles setelah Lord Minto meninggal dunia pada bulan Juni 1814. Bahkan, meski tidak terbukti, ia dituduh telah melakukan korupsi. Kekuasaan Inggris atas Hindia Belanda semakin lemah setelah negara-negara yang melawan Napoleon membuat perjanjian untuk mendirikan kerajaan Belanda yang baru. Akhirnya, pada tanggal 13 Agustus 1814 Inggris menyetujui bahwa semua harta dan kekuasaannya di Hindia Belanda dikembalikan kepada Belanda. Keputusan ini diperkuat dengan Kongres Wina pada tahun 1815 yang menyebutkan bahwa Inggris harus mengembalikan Jawa dan kekuasaan Hindia Belanda lainnya kepada Belanda sebagai bagian dari persetujuan yang mengakhiri Perang Napoleon. Serah terima kekuasaan dilaksanakan antara Letnan Gubernur John Fendall (Inggris) kepada Tiga Komisaris Belanda (Cornelis Elout, Buijskes, dan van der Capellen) pada bulan Agustus 1816. Raffles pun kembali ke Inggris dan Hindia Belanda kembali jatuh ke dalam kekuasaan negeri Belanda.

Artikel Terkait

Updated: 12 December 2012 — 03:41

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Budisma.web.id © 2014