Kriteria Pemilihan Batang Bawah Dan Batang Atas

Kriteria Pemilihan Batang Bawah Dan Batang Atas

a. Pemilihan Batang bawah

Batang bawah atau rootstock/understem adalah tanaman yang berfungsi sebagai batang bagian bawah yang masih dilengkapi de-ngan sistem perakaran yang berfungsi mengambil makanan dari dalam tanah untuk batang atas atau tajuknya. Pada umumnya batang bawah berasal dari biji. Keuntungan batang bawah dari biji adalah:

  • Perkembangan sistem akar lebih kuat dan dalam, karena memiliki akar tunggang, sehingga relatif lebih tahan terhadap kekeringan.
  • Penyediaan batang bawah jenis ini bisa dilakukan dalam jumlah banyak.

Adapun Kriteria tanaman yang akan dijadikan batang bawah adalah:

  • Mampu beradaptasi atau tumbuh kompak dengan batang atasnya, sehingga batang bawah ini mampu menyatu dan menopang proses pertumbuhan batang atasnya.
  • Tanaman dalam kondisi sehat.
  • Sistem perakarannya baik dan dalam serta tahan terhadap keadaan tanah yang kurang menguntungkan, termasuk harus tahan teradap hama dan penyakit yang ada dalam tanah.
  • Tidak mengurangi kualitas dan kuantitas tanaman yang disambungkan/ diokulasi. Perawatan batang bawah meliputi kegiatan pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, serta penyiraman. Hal ini perlu diperhatikan agar batang bawah tumbuh subur dan sehat. Pertumbuhan yang subur dan sehat akan mempermudah pengelupasan kulit dan kayunya, karena sel-sel kambium berada dalam keadaan aktif membelah diri. Proses pembentukan kalus atau penyembuhan luka berlangsung dengan baik, sehingga pada akhirnya keberhasilan sambungan atau okulasinya juga tinggi.

b. Pemilihan batang atas

Batang atas yang biasanya disebut entres (scion), adalah calon bagian atas atau tajuk tanaman yang di kemudian hari akan menghasilkan tanaman berkualitas unggul. Batang atas ini dapat berupa mata tunas tunggal yang digunakan dalam teknik okulasi ataupun berupa ranting dengan lebih dari satu mata tunas atau ranting dengan tunas pucuk yang digunakan dalam sambungan (grafting). Entres inilah yang disambungkan pada batang bawah untuk menggabungkan sifat-sifat yang unggul dalam satu bibit tanaman. Karena itu entres sebagai batang atas harus diambil dari pohon induk yang sudah diketahui betul sifat unggulnya.

Pohon induk mempunyai bagian yang berbeda-beda fase perkembangannya. Bagian pangkal pohon merupakan bagian yang tertua menurut umurnya, tetapi karena terbentuk pada masa awal pertumbuhan pohon tersebut maka sel-selnya besifat sederhana, muda (juvenile) dan sangat vegetatif. ·Semakin ke arah ujung ranting, semakin muda menurut umurnya, tetapi sel-sel yang terbentuk paling akhir ini justru bersifat lebih kompleks, dewasa (mature) dan siap untuk memasuki masa berbunga dan berbuah (generatif).

Pengambilan entres dari pucuk tajuk pohon akan tetap membawa sifat dewasa atau generatif. Penyambungan entres dengan batang bawah akan menghasilkan bibit yang sudah membawa sifat dewasa tersebut. Hal ini menyebabkan bibit hasil penyambungan atau okulasi lebih cepat berbuah daripada ta-naman yang berasal dari biji. Kriteria tanaman yang dapat dijadikan sebagai batang atas adalah sebagai berikut.

  • Mampu beradaptasi atau tumbuh kompak dengan batang bawahnya, sehingga batang atas mampu menyatu dan dapat berproduksi dengan optimal.
  • Cabang dari pohon yang sehat, pertumbuhannya normal dan bebas dari serangan hama dan pe-nyakit
  • Cabang berasal dari pohon induk yang sifatnya benar-benar seperti dikehendaki, misalnya berbuah lebat dan berkualitas tinggi.

Salah satu sifat unggul pada tanaman, adalah kualitas buahnya. Semakin banyak sifat yang disukai konsumen dalam satu tanaman, maka semakin tinggi pula nilai ekonomi (harga) tanaman tersebut. Tanaman tersebut dapat digolongkan sebagai tanaman unggul.

Salah satu contoh adalah cara menilai bibit unggul buah durian berdasarkan kriteria penampilan buah dan sifat buah yang disukai konsumen, sehingga diperoleh suatu daftar kriteria penilaian buah durian unggul.

  • Kelompok sifat utama. Rasa daging buahnya manis berlemak, dan diutamakan memiliki rasa yang khas.  Ketebalan daging buahnya tebal. Ukuran bijinya kecil atau sekurangkurangnya kisut. Warna daging buahnya: kuning sampai jingga, kadar air daging sedikit (kering). Tekstur dagingnya halus dan sedikit berserat. Ukuran buahnya besar. Aroma buahnya kuat dan merangsang. Kulit buahnya tipis dan mudah dibuka bila buah sudah masak. Juring sempurna, berjumlah 5-6 juring.
  • Kelompok sifat penunjang. Sifat penunjang yang banyak dijadikan kriteria untuk suatu bibit unggul adalah: Struktur pohon kokoh, percabangan merata/simetris, tajuk bulat. Produksi buah tinggi dan stabil setiap tahun, diutamakan yang panen buahnya pada awal atau akhir musim. Tahan terhadap serangan hama penggerek dan beberapa jenis cendawan. Mudah diperbanyak secara vegetatif. Pertumbuhan cepat dan responsif terhadap kultur teknis budidaya (pemupukan, pengairan).

Apabila minimal terpenuhi sekurangkurangnya 70% dari sifat unggul dari daftar diatas maka buah atau bibit tanaman tersebut tergolong jenis unggul. Bila tidak memenuhi 70% persyaratan di atas, maka tanaman tersebut tergolong buah yang biasa (kualitas normal). Cara penilaian seperti ini dapat dipakai untuk menilai jenis buah lainnya. Namun perlu mengadakan perubahan kriteria tertentu agar sesuai dengan sifat masing-masing jenis buah.

c. Pengemasan batang atas

Tujuan pengemasan adalah menjaga kesegaran bahan batang atas selama mungkin, hingga dapat segera disambungkan di kebun pembibitan. Metode pengemasan calon entres adalah sebagai berikut. Cabang atau ranting pohon induk dipilih sesuai dengan kriteria dan idealnya berdiameter 2-4 cm (tergantung jenis dan kualitas pohon induknya). Seluruh daunnya segera dirontokkan, untuk mengurangi kehilangan air dari permukaan daun yang dapat mengakibatkan entres menjadi keriput. Pohon induk yang dipilih untuk sumber entres dapat diproses sebagai berikut:

  • Dari satu ranting dapat dihasilkan 3-5 mata entres yang baik/ produktif.
  • Entres harus disortir atau dipisahkan berdasarkan keberadaan mata tunas.
  • Entres harus tidak bercabang, tetapi berupa cabang tunggal sepanjang kurang lebih 20-30 cm.
  • Sekumpulan cabang tunggal kemudian diikat dengan karet gelang sebanyak 10-30 entres setiap ikat, tergantung dari besar-kecilnya diameter entres.
  • Bahan pembungkus yang digunakan harus bisa meredam panas dan sekaligus menjaga tingkat kelembaban entres. Bahan yang biasa dipakai dan mudah didapat adalah kertas koran, kertas tisu, kantong plastik, daun dan pelepah pisang.
  • Setiap ikatan entres yang telah dipilih kemudian dibungkus dengan beberapa lapis kertas tisu atau kertas koran. Bungkus pertama ini perlu diperciki dengan air agar agak lembab, tetapi jangan terlalu basah. Setelah itu dibungkus lagi dengan kantong plastik. Dengan cara ini, kesegaran entres dapat bertahan 2 hari. Dan lebih baik lagi kalau bungkus paling luar adalah pelepah pisang. Bahan ini merupakan peredam panas yang ideal, karena jaringan batang pisang segar banyak mengandung air dan sekaligus rongga-rongga udara. Kotak kardus atau karton dapat juga dipakai sebagai alternatif.
  • Pada waktu diangkut entres yang sudah dibungkus tidak boleh terkena sinar matahari langsung dan ditaruh di dekat mesin, karena entres akan mengalami kekeringan.
  • Entres harus diletakkan mendatar agar cairan dalam entres tidak bergerak turun akibat gaya gravitasi, sehingga kulit batang entres tidak akan mengerut dan sulit untuk dikelupaskan dari kayunya.
  • Entres jangan dicuci dengan air, karena akan mengundang datangnya bakteri patogen dan cendawan masuk ke jaringan entres dan kambiumnya cepat tertarik keluar sehingga sering keluar cairan kental dari luka. Aki-batnya pada saat akan diokulasikan atau disambungkan pada batang bawah, entres sudah membusuk.
  • Jangan melakukan pengambilan cabang entres setelah turun hujan Bila ini terpaksa dilakukan, maka setelah cabang entres dipotong dari pohon induknya, segera dikeringanginkan, baru kemudian dibungkus.
  • Menyimpan entres di dalam refrigerator (kulkas), perlu memperhatikan suhu dan kelembaban yang rendah. Kondisi demikian dapat menarik air keluar dari entres sehingga entres menjadi keriput dan kehilangan kesegarannya.

Sumber: Paristiyanti Nurwardani. TEKNIK PEMBIBITAN TANAMAN DAN PRODUKSI BENIH JILID 1: Jakarta: BSE 2008

Artikel Terkait

Updated: 17 April 2012 — 06:00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Budisma.web.id © 2014 Frontier Theme