Latar Belakang Berdirinya VOC

Latar Belakang Berdirinya VOCBelanda pada tahun 1599 meneruskan pelayarannya hingga ke Maluku. Penduduk Maluku menerima dengan baik kedatangan Belanda, selain karena menunjukkan sikap yang baik, juga dianggap sebagai musuh dari orang-orang Portugis yang tidak disukai oleh penduduk Maluku. Pada tahun 1600 armada Belanda kembali ke negerinya dengan membawa rempah-rempah yang banyak. Keberhasilan inilah yang menjadikan kongsi-kongsi dagang di Belanda berbondong-bondong datang ke Indonesia. Akibatnya adalah Indonesia dipenuhi oleh para pedagang dari Belanda. Di antara kongsi dagang Belanda sendiri terjadi persaingan, selain itu persaingan juga terjadi dengan Inggris, Spanyol dan Portugis. Akibatnya mereka tidak mendapatkan keuntungan bahkan merugi. Atas dasar inilah, diprakarsai oleh pembesar Belanda Olden Barneveldt, pada bulan Maret 1602 semua kongsi dagang Belanda di Hindia Timur dipersatukan dalam sebuah kongsi besar dengan nama Verenigde Oost-Indishce Compagnie (VOC) yang disahkan oleh Staten-General, yakni Republik Kesatuan Tujuh Propinsi berdasarkan suatu piagam yang memberikan hak eksklusif kepada perseroan untuk berdagang, berlayar, memonopoli pedagangan, dan memegang kekuasaan. Pimpinan VOC terdiri atas tujuh belas orang, maka disebut Hereen Zeventien. Dalam perkembangannya Belanda (VOC) menjadi satu-satunya bangsa Eropa yang mendominasi perdagangan di Indonesia, serta mampu menancapkan kuku kekuasaannya dengan menjadikan Indonesia sebagai wilayah kolonial dan imperialisnya hingga ratusan tahun lamanya.

VOC

Kongsi besar VOC menjadi cikal bakal kolonialisme dan imperialisme di Indonesia. Tujuannya tidak lagi sebatas berdagang tetapi termasuk di dalamnya adalah penguasaan wilayah dan menerapkan sistem monopoli perdagangan. Jaringan perdagangan yang sudah berkembang sebelumnya yang dipelopori oleh para pedagang Islam secara berangsur-angsur mengalami keruntuhan. VOC dalam memaksakan sistem perdagangan monopolinya yaitu dengan cara militer. Walaupun VOC sebagai kongsi dagang, tetapi oleh pemerintah Belanda diberi kekuasaan yang besar, dengan diberikannya hak Octrooi. Hak octrooi tersebut, antara lain:

(a) hak monopoli perdagangan;

(b) hak untuk mencetak dan mengedarkan uang sendiri;

(c) hak mengadakan perjanjian;

(d) hak mengumumkan perang dengan negara lain;

(e) hak menjalankan kekuasaan kehakiman;

(f) hak mengadakan pemerintahan sendiri;

(g) hak melakukan pungutan pajak;

(h) hak memiliki angkatan perang sendiri;

(i) menjadi wakil pemerintah Belanda di Asia.

Sepak Terjang VOC di Indonesia

Gubernur jenderal VOC pertama di Indonesia adalah Pieter Both. Ia menentukan pusat kedudukan VOC di Ambon atas dasar kemudahan monopoli rempah-rempah. Belakangan, ia berencana memindahkan pusat kekuasaan ke Jayakarta karena dipandang lebih strategis dan berada di jalur perdagangan Asia. Dari Jayakarta pula VOC lebih mudah mengontrol gerak Portugis yang ada di Malaka. Untuk itu, Pieter Both meminta izin Pangeran Jayakarta untuk mendirikan kantor dagang di Jayakarta. Permintaan itu dikabulkan, namun harus berbagi juga dengan EIC yang juga akan mendirikan kantor di Jayakarta. Dalam upaya mempertahankan kekuasaannya, VOC mendirikan benteng di wilayah-wilayah yang strategis. Pada awalnya, VOC memusatkan kegiatannya di Maluku, tetapi karena letaknya yang kurang strategis maka dipindahkan ke pulau Jawa, yaitu Jayakarta. Dalam usahanya mendirikan benteng di Jayakarta, Jan Pieter Zoen Coen (oleh kaum pribumi disebut “Mur Jangkung”), gubernur jenderal VOC, mendapatkan tentangan dari Pangeran Jayakarta, Wijayakarma, dan Inggris, karena kehadiran bagi Wijayakarma dan Inggris, kehadiran VOC dapat menimbulkan ancaman terhadap kepentingan dagang mereka. Pada awalnya, VOC mengalami kekalahan dalam dalam peperangan menghadapi Wijayakarma yang dibantu oleh EIC (East India Company) dari Inggris ketika terjadi pertempuran di laut, yang memaksa J.P. Coen melarikan diri ke Maluku. Pada tanggal 30 Mei 1619 VOC, di bawah komando J.P. Coen VOC kembali dari Maluku dengan membawa pasukan yang besar, menyerang Jayakarta yang berakhir dengan kemenangan VOC. Maka bergantilah pada tahun itu nama Jayakarta menjadi Batavia, yang diambil dari kata Bataaf, yang merupakan nenek moyang bangsa Belanda. Dan pada tanggal 4 Maret 1622 Batavia diakui dengan resmi oleh Hereen Zeventien sebagai pusat VOC di Indonesia.

Wilayah lain yang dikuasai oleh VOC setelah Jayakarta adalah Banten, yang berhasil diduduki pada tahun 1621. Dalam usahanya menduduki Banten, Belanda memanfaatkan konflik internal kerajaan Banten dengan cara politik adu domba. Antara Sultan Haji, Putra Mahkota Banten, sedang berselisih dengan Sultan Ageng Tirtayasa mengenai pergantian kekuasaan kerajaan. Dalam hal ini VOC memberikan bantuan kepada Sultan Haji untuk melengserkan Sultan Ageng Tirtayasa. Setelah berhasil melengserkan Sultan Ageng Tirtayasa, VOC meminta imbalan berupa perjanjian, yang menyatakan bahwa Banten merupakan wilayah yang berada di bawah kekuasaan VOC, dan VOC diijinkan mendirikan benteng. Banten juga harus memutuskan hubungan dengan dengan bangsa-bangsa lain dan memberikan hak monopoli kepada VOC untuk berdagang di Banten.

Kerajaan-kerajaan yang saat itu sedang berkuasa di Indonesia di antaranya, Mataram, Cirebon, Maluku, Banda, Ambon, Makassar, dan Bone, satu persatu dilucuti wibawa dan kekuasaannya. VOC melakukan cara apapun untuk dapat mencapai tujuannya, seperti pembantaian, tipu daya, politik Devide et Impera (pecah belah dan kuasai).

Di Makassar, selain rempah-rempah, berbagai komoditas bumi lainnya juga diperdagangkan, di antaranya: produk hutan (kayu cendana, kayu sapan, rotan, damar), produk laut (sisik penyu dan mutiara), industri rumah tangga (parang, pedang, kapak, kain selayar, kain bima), produk Cina (porselin, sutera, emas, perhiasan emas, alat musik gong), dan produk India berupa kain tekstil.

Artikel Terkait

Updated: 4 November 2014 — 19:13

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Budisma.web.id © 2014 Frontier Theme