Macam-macam dan Dampak Seisme (Gempa Bumi)

Macam-macam dan Dampak Seisme (Gempa Bumi) – Hampir semua proses dinamika perubahan muka Bumi yang terjadi karena tenaga endogen diikuti dengan gempa. Inilah salah satu bukti adanya tenaga-tenaga dari dalam Bumi. Bahkan dalam aktivitas vulkanisme, frekuensi terjadinya gempa menjadi indikator tingkat keaktifan suatu gunung api. Ya, karena fenomena ini merupakan gejala pelepasan energi berupa gelombang yang menjalar ke permukaan Bumi akibat adanya gangguan pada lempeng Bumi.

a. Penggolongan Gempa

Mengenali dan mengetahui berbagai sifat bencana yang ditimbulkan merupakan hal yang harus dilakukan pertama kali dalam rangka mitigasi bencana. Beberapa kegiatan bencana alam seperti gempa, sulit sekali dicegah dan ditentukan kapan dan di mana lokasinya, tetapi pencegahan jatuhnya korban dapat dilakukan. Nah, salah satu caranya adalah mengenali berbagai jenis gempa. Jika kita mempertanyakan dari mana gempa itu berasal atau bagaimana gempa itu terjadi, maka kita dapat melihat pada tiga sumber terjadinya gempa, yaitu karena pergerakan lempeng tektonik, aktivitas gunung api, atau karena runtuhan tambang atau lubang-lubang interior di dalam Bumi. Gempa karena lepasnya sejumlah energi pada saat pergerakan lempeng Bumi disebut  gempa tektonik. Akibat aktivitas gunung api, maka disebut gempa vulkanik, dan karena adanya runtuhan disebut gempa runtuhan.

Gambar 6.46 Jalur kekuatan gempa.

Sumber: Geography Essentials, halaman 33

Gambar 6.46 Jalur kekuatan gempa.

Selain tiga penggolongan gempa tersebut, masih ada beberapa penggolongan gempa berdasarkan parameternya.

1) Berdasarkan kedalaman pusat gempa atau hiposentrum:

a) Gempa dalam, jika hiposentrumnya terletak 300–700 km di bawah permukaan Bumi.

b) Gempa intermidier, jika hiposentrumnya terletak 100–300 km di bawah permukaan Bumi.

c) Gempa dangkal, jika hiposentrumnya kurang dari 100 km di bawah permukaan Bumi.

2) Berdasarkan bentuk episentrumnya:

a) Gempa linier, jika episentrum berbentuk garis. Contoh: Gempa tektonik karena patahan.

b) Gempa sentral, jika episentrumnya berbentuk titik. Contoh: Gempa vulkanik dan gempa runtuhan.

3) Berdasarkan letak episentrumnya:

a) Gempa daratan, jika episentrumnya di daratan.

b) Gempa laut, jika episentrumnya di dasar laut.

4) Berdasarkan jarak episentrumnya:

a) Gempa setempat, jika jarak episentrum dan tempat gempa terasa sejauh kurang dari 1.000 km.

b) Gempa jauh, jika jarak episentrumnya dan tempat gempa terasa sekitar 10.000 km.

c) Gempa sangat jauh, jika jarak episentrum dengan tempat terasa lebih dari 10.000 km.

Istilah-istilah yang berkaitan dengan gempa bumi sebagai berikut.

a. Seismologi : Ilmu yang mempelajari gempa bumi.

b. Hiposentrum : Pusat gempa yang terletak di dalam Bumi.

c. Episentrum : Pusat gempa di permukaan Bumi atau dasar laut, dengan gelombang gempa dari dalam Bumi dirambatkan pertama kali di permukaan Bumi atau dasar laut.

d. Seismograf : Alat pencatat gempa.

e. Seismogram: Gambaran getaran Bumi yang dicatat oleh seismograf dalam bentuk garis patah-patah. Semakin kuat getaran, semakin lebar penyimpangan garis patah-patah. Semakin lama getaran sampai di tempat, semakin panjang pita seismograf menggambarkan seismogram.

f. Pleistoseista: Garis batas daerah yang mengalami kerusakan terberat yang terletak di sekitar episentrumnya.

g. Isoseita : Garis pada permukaan Bumi yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai kerusakan fisik yang sama akibat gempa.

h. Homoseista : Garis permukaan Bumi yang mencatat gelombang gempa primer pada waktu yang sama dan berupa garis lingkaran atau elips.

b. Gempa di Indonesia

Dari kejadian-kejadian gempa yang terjadi di Indonesia, mungkin kamu sudah tahu mengapa gempa sering kali terjadi? Ya, tiga lempeng tektonik yang melewati Indonesia membuat negeri kita rawan terjadi gempa. Jadi secara alami, negeri kita memang negeri gempa. Kenyataan ini bukan untuk ditakuti, tetapi untuk diwaspadai bahwa gempa bisa terjadi kapan saja di negara kita. Mulai sekarang, kenalilah apakah wilayah tempat tinggalmu merupakan daerah rawan gempa? Kamu dapat menemukan kejelasan tentang hal ini dengan melihat peta persebaran jalur-jalur gunung api di depan dan mengumpulkan informasi sejarah terjadinya gempa di wilayahmu. Berdasarkan sejarah kekuatan sumber gempa, aktivitas gempa bumi di Indonesia terbagi dalam enam daerah aktivitas:

1) Daerah Sangat Aktif

Wilayah sangat aktif memungkinkan terjadinya gempa dengan kekuatan lebih dari 8 skala Richter. Meliputi wilayah Halmahera dan lepas pantai utara Papua.

2) Daerah Aktif

Di wilayah ini kemungkinan gempa dengan kekuatan 8 sampai 7 skala Richter sering terjadi. Yaitu di lepas pantai barat Sumatra, Kepulauan Sunda, dan Sulawesi Barat.

3) Daerah Lipatan dengan atau Tanpa Retakan

Gempa dengan kekuatan kurang dari 7 skala Richter bisa terjadi. Wilayah ini meliputi Sumatra, Kepulauan Sunda, dan Sulawesi Tengah.

4) Daerah Lipatan dengan atau Tanpa Retakan

Gempa dengan kekuatan kurang dari 7 skala Richter mungkin terjadi. Wilayah ini meliputi pantai barat Sumatra, Jawa bagian utara, dan Kalimantan bagian timur.

5) Daerah Gempa Kecil

Gempa dengan kekuatan kurang dari 5 skala Richter jarang terjadi. Wilayah ini meliputi pantai timur Sumatra.

6) Daerah Stabil

Tidak ada catatan sejarah gempa di wilayah ini. Wilayah ini meliputi Kalimantan Tengah, Kalimantan bagian barat, serta pantai selatan Papua. Mencermati daerah aktivitas gempa tersebut dengan kenyataan di sepanjang tahun 2006, wilayah di barat, selatan, dan timur Indonesia rawan terjadi gempa. Tercatat gempa paling merusak tahun 2006 terjadi di Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah. Selang beberapa waktu kemudian gempa dan tsunami terjadi di pantai selatan Jawa. Wilayah yang mengalami rusak parah, yaitu Pantai Pangandaran. Nah, kamu bisa mengetahui kejadian-kejadian gempa di Indonesia yang lebih lengkap dengan mengunjungi situs www.bmg.go.id.

c. Dampak Gempa

Seperti bahasan kita sebelumnya bahwa gempa merupakan salah satu tenaga endogen yang memengaruhi bentuk muka Bumi.  Oleh karena itu, gempa berdampak langsung pada deformasi lapisan Bumi. Bentuk deformasi akan sangat tergantung pada arah dan kekuatan tenaga endogen itu sendiri. Di permukaan Bumi dampak gempa juga dipengaruhi oleh kekuatan gempa itu sendiri. Kerusakan berat timbul dari gempa berkekuatan tinggi. Banyak bangunan hancur, rata dengan tanah, korban pun banyak berjatuhan. Memang benar gempa tidak hanya memberikan dampak bagi lingkungan fisik, tetapi juga kehidupan sosial masyarakat. Cobalah temukan dampak lain gempa terhadap kehidupan sosial. Oleh karena dahsyatnya dampak yang diakibatkan oleh gempa, maka kejadian gempa digolongkan sebagai salah satu bencana yang harus diwaspadai karena dapat juga menyebabkan tsunami. Ya, gempa menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya tsunami. Akan tetapi, tidak semua gempa menyebabkan tsunami. Ada beberapa kondisi yang menyebabkan tsunami, antara lain gempa berkekuatan besar (lebih besar 6 SR, pusat gempa berada di dasar laut dengan pusat gempa yang dangkal, dan adanya dislokasi kerak Bumi bawah laut). Gerakan vertikal pada kerak Bumi dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tibatiba, yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang ada di atasnya. Pada akhirnya menyebabkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai akan menjadi gelombang besar yang disebut tsunami.

Gambar 6.48 Skema terjadinya tsunami

Sumber: www.wikipedia.org

Gambar 6.48 Skema terjadinya tsunami.

Artikel Terkait

1 Comment

Add a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Budisma.web.id © 2014 Frontier Theme