Proses Pembentukan Spermatozoa (Spermatogenesis)

Sperma, ketika menyatu dengan oosit wanita, memberikan kontribusi informasi genomik laki-laki, memungkinkan keturunan yang berfungsi penuh untuk berkembang. Fungsi utama dari sperma adalah untuk mengangkut informasi genomik dari laki-laki untuk perempuan, menempuh jarak 15 cm, yang setara dengan manusia berenang 40 mil. Dalam perjalanan sperma harus melakukan perjalanan melalui lingkungan yang menyiksa dari bagian asam vagina, lendir serviks, rahim dan tuba fallopi. Untuk mencapai tujuan dan membuahi oosit, sperma menjadi sel mobile khusus.

sperma

Proses Pembentukan Spermatozoa (Spermatogenesis)- Spermatogenesis merupakan proses pembentukan dan pematangan spermatozoa (sel benih pria). Spermatogenesis dimulai dengan pertumbuhan spermatogonium menjadi sel yang lebih besar disebut spermatosit primer. Sel-sel ini membelah secara mitosis menjadi dua spermatosit sekunder yang sama besar, kemudian mengalami pembelahan meiosis menjadi empat spermatid yang sama besar. Spermatid adalah sebuah sel bundar dengan sejumlah besar protoplasma dan merupakan gamet dewasa dengan sejumlah kromosom haploid. Proses ini berlangsung dalam testis (buah zakar) dan lamanya sekitar 72 hari. Proses spermatogenesis sangat bergantung pada mekanisme hormonal tubuh.

Spermatogenesis

Spermatogenesis merupakan proses pembentukan dan pematangan spermatozoa (sel benih pria)

Spermatozoa ( sperma) yang normal memiliki kepala dan ekor, di mana kepala mengandung materi genetik DNA, dan ekor yang merupakan alat pergerakan sperma. Sperma yang matang memiliki kepala dengan bentuk lonjong dan datar serta memiliki ekor bergelombang yang berguna mendorong sperma memasuki air mani. Kepala sperma mengandung inti yang memiliki kromosom dan juga memiliki struktur yang disebut akrosom. Akrosom mampu menembus lapisan jelly yang mengelilingi telur dan membuahinya bila perlu. Sperma diproduksi oleh organ yang bernama testis dalam kantung zakar. Hal ini menyebabkan testis terasa lebih dingin dibandingkan anggota tubuh lainnya. Pembentukan sperma berjalan lambat pada suhu normal, tapi terus-menerus terjadi pada suhu yang lebih rendah dalam kantung zakar.

Pada tubulus seminiferus testis terdapat sel-sel induk spermatozoa atau spermatogonium. Selain itu juga terdapat sel Sertoli yang berfungsi memberi makan spermatozoa juga sel Leydig yang terdapat di antara tubulus seminiferus. Sel Leydig berfungsi menghasilkan testosteron.

Spermatogonium berkembang menjadi sel spermatosit primer. Sel spermatosit primer bermiosis menghasilkan spermatosit sekunder. Spermatosit sekunder membelah lagi menghasilkan spermatid. Spermatid berdeferensiasi menjadi spermatozoa masak. Bila spermatogenesis sudah selesai, maka ABP (Androgen Binding Protein) testosteron tidak diperlukan lagi, sel Sertoli akan menghasilkan hormon inhibin untuk memberi umpan balik kepada hiposis agar menghentikan sekresi FSH dan LH.

Kemudian spermatozoa akan keluar melalui uretra bersama-sama dengan cairan yang dihasilkan oleh kelenjar vesikula seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar Cowper. Spermatozoa bersama cairan dari kelenjar-kelenjar tersebut dikenal sebagai semen atau air mani. Pada waktu ejakulasi, seorang laki-laki dapat mengeluarkan 300 – 400 juta sel spermatozoa. Pada laki-laki, spermatogenesis terjadi seumur hidup dan pelepasan spermatozoa dapat terjadi setiap saat.

Pada akhir proses, terjadi pertumbuhan dan perkembangan atau diferensiasi yang rumit, tetapi bukan pembelahan sel, yaitu mengubah spermatid menjadi sperma yang fungsional. Nukleus mengecil dan menjadi kepala sperma, sedangkan sebagian besar sitoplasma dibuang. Sperma ini mengandung enzim yang memegang peranan dalam menembus membran sel telur.

Spermatogenesis terjadi secara diklik di semua bagian tubulus seminiferus. Di setiap satu bagian tubulus, berbagai tahapan tersebut berlangsung secara berurutan. Pada bagian tubulus yang berdekatan, sel cenderung berada dalam satu tahapan lebih maju atau lebih dini. Pada manusia, perkembangan spermatogonium menjadi sperma matang membutuhkan waktu 16 hari. Spermatogenesis dipengaruhi oleh hormon gonadotropin, Follicle Stimulating Hormone (FSH), Luteinizing hormone (LH), dan hormon testosteron.

Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa sperma diproduksi oleh tubulus seminiferus. Hal yang mengagumkan dari kerja tubulus seminiferus ini adalah mampu memproduksi sperma setiap hari sekitar 100 juta spermatozoa. Jumlah yang normal spermatozoa berkisar antara 35 – 200 juta, tetapi mungkin pada seseorang hanya memproduksi kurang dari 20 juta, maka orang tersebut dapat dikatakan kurang subur. Biasanya faktor usia sangat berpengaruh terhadap produksi sperma. Seorang laki-laki yang berusia lebih dari 55 tahun produksi spermanya berangsur-angsur menurun. Pada usia di atas 90 tahun, seseorang akan kehilangan tingkat kesuburan.

Selain usia, faktor lain yang mengurangi kesuburan adalah frekuensi melakukan hubungan kelamin. Seseorang yang sering melakukan hubungan kelamin akan berkurang kesuburannya. Hal ini disebabkan karena sperma belum sempat dewasa sehingga tidak dapat membuahi sel telur. Berkebalikan dengan hal itu, apabila sperma tidak pernah dikeluarkan maka spermatozoa yang telah tua akan mati lalu diserap oleh tubuh.

Nah, jika seorang anak telah memasuki masa akil baligh, itu tandanya sel sperma sudah mulai terbentuk. Sebaiknya sepasang orang tua memberikan pengertian kepada anak laki-laki mereka bahwa mereka sudah bisa menghasilkan keturunan jika mereka bergaul bebas dengan seorang perempuan. Menanamkan pendidikan seks kepada anak dibarengi pendidikan moral yang utuh akan membuat sang anak mengerti. Itu artinya kita sudah mulai menata kualitas keluarga kita serta keturunan kita nantinya.

Sensitivitas Produksi Sperma

50% dari kasus infertilitas disebabkan oleh masalah pada pasangan pria. Kerusakan DNA pada germline laki-laki telah terbukti memiliki konsekuensi serius bagi kesehatan dan perkembangan anak. Keguguran dapat disebabkan oleh kerusakan gen yang terlibat dalam perkembangan plasenta, banyak yang diwariskan dari ayah. tingkat kerusakan DNA Sperma yang lebih tinggi pada perokok, pria yang lebih tua dan orang-orang yang telah menjalani terapi kanker.

Fungsi testis sangat sensitif terhadap suhu, yang telah menyebabkan perkembangan testis menurun untuk menjaga testis antara 2 dan 8 derajat celsius di bawah suhu tubuh inti. Percobaan Heat shock pada tikus testis menyebabkan kerusakan struktur kromatin, mekanisme perbaikan DNA terganggu, mengurangi kesuburan, mengurangi berat plasenta pada kehamilan yang sukses dan menyebabkan pertumbuhan embrio abnormal. Ada korelasi antara tekana panas pada testis pria dan kemandulan yang dapat dialami dalam pekerjaan seperti tukang roti, tukang las, dan pengemudi profesional atau orang-orang dengan postur tubuh yang buruk dan mengenakan pakaian ketat pas. Suhu testis yang tinggi jelas mempengaruhi kualitas sperma dan akibatnya kesuburan.

Baca juga artikel terkait dengan Proses Pembentukan Spermatozoa (Spermatogenesis)

1 Comment

Add a Comment
  1. kalimat yang digunakan mudah dimengerti, tapi masih butuh point" yang lebih akurat.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Budisma.web.id © 2014 Frontier Theme